Oleh: drahani | Februari 27, 2008

PKS : Asas Tetap Islam, Pluralitas Diakomodasi


d.jpgBerikut petikan wawancara Presiden PKS Ir. Tifatul Sembiring dengan wartawan Gatra Mukhlison S. Widodo tentang sikap PKS terhadap wacana pluralitas. Musyawarah Kerja Nasional Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berlangsung di Denpasar, Bali, 1-3 Februari lalu, memunculkan usulan untuk merekrut calon anggota legislatif dari kalangan non-muslim. Wacana itu lalu menggelinding bahwa PKS bakal berubah menjadi partai berasaskan pluralitas yang terbuka bagi setiap golongan.

Namun, sebelum gelindingan itu membesar, Presiden PKS, Tifatul Sembiring, buru-burupks-5.jpg meluruskan. Menurut Tifatul, partainya tetap sebagai partai dakwah yang berasaskan Islam. Pluralitas atau keterbukaan masih sebatas usulan, wacana, dan beberapa wawasan yang akan dikaji dan didalami. Kepada wartawan Gatra Mukhlison S. Widodo, Senin lalu, Tifatul memaparkan secara rinci tentang sikap PKS terhadap wacana pluralitas.

Wacana agar PKS menjadi partai pluralis itu bagaimana ceritanya?
Ide itu sebenarnya muncul dari kader-kader di daerah yang minoritas non-muslim, seperti di Bali, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Mereka berpikir, akan lebih baik jika di Papua, misalnya, yang mayoritas Nasrani, diwakili kader PKS yang Nasrani pula.

Bagaimana sikap partai atas usulan itu?
Pada dasarnya, kami menghargai pluralitas. Falsafah perjuangan di PKS, di bidang budaya menekankan untuk menghargai pluralitas. Dasarnya terinspirasi oleh Piagam Madinah. Pada saat itu, Rasulullah Muhammad SAW membuat perjanjian di antara penduduk Madinah yang beragam kepercayaannya. Intinya, Piagam Madinah menjamin kebebasan beribadah, larangan saling menyerang, dan jika ada musuh dari luar menyerang, dihadapi bersama.

Apakah PKS akan menjadi partai pluralis?
Kami jelas Islam. Asas kami Islam, moralitasnya Islam. Tentang wacana pluralitas, jika di Majelis Syuro bisa diakomodasi, tentunya akan diakomodasi. Saya rasa, sebagai sebuah pemikiran, itu boleh-boleh saja. Itu merupakan dinamika.

Jadi, asas PKS belum berubah?
Islam masih menjadi asas. Cuma, kami menjadi Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kami akan selalu melindungi segala macam golongan. Anda aman selama tidak melanggar hukum.

Apakah ini berarti semua daerah bebas mengajukan calon anggota legislatif dari kalangan non-muslim?
Itu baru usulan, ya. Itu belum menjadi sebuah keputusan. Dan itu pun terbuka di daerah-daerah minoritas muslim. Dalam sebulan ini akan dipercepat. Majelis Syuro mengadakan pembahasan soal ini.

Meski PKS menghargai pluralitas, masih ada yang menganggap PKS fundamentalis. Tangapan Anda?
Kita lihat saja faktanya. Kami ini berbeda dengan gerakan-gerakan Islam garis keras, gara kami bergerak, cara kami masuk ke parlemen. Kami juga berdemo di jalan tanpa membuat ketakutan di masyarakat luas. Kami mencoba memberi pembelajaran politik terhadap masyarakat, begini caranya berdemo, begini caranya ketika kita punya konflik dalam pilkada.

Dengan sikap menghargai pluralitas ini, dikhawatirkan PKS merebut suara partai-partai Islam yang masih konservatif. Menurut Anda?
Saya rasa, bukan soal menggerogoti, ya. Kami itu bukan ngetekin (mengklaim), eh, ini konstituen kami nggak boleh masuk situ. Nggak ada aturan seperti itu. Semuanya serba terbuka. Pasar ini pasar bebas. Tidak bisa suatu partai mengklaim, hai, kami ini partai nasionalis, ngapain PKS cari suara nasionalis.

Dengan begitu, berapa target perolehan suara PKS tahun 2009?
Target kami meraup 20% suara. Masalahnya, jika mengandalkan kader, kami hanya bisa meraup 10% suara. Kalau ingin naik di atas 10%, kami harus ekspansif mengincar massa mengambang. Itu sebabnya, sekarang kami menyebut diri sebagai partai kader berbasis massa.

Konstituen partai mana yang akan dijadikan target?
Kami tidak membidik partai-partai begitu. Tapi, kalau memang ingin memperluas segmen, kami harus membidik segmen nasionalis. Captive market partai Islam, ya, segitu-segitu saja. Isu-isu kami harus lebih cair. Kalau misalnya mau bergeser ke nasionalis, isu-isu kami tidak soal fundamentalis. Ini kan tidak sesuai dengan target kami nanti.

Partai mana yang menjadi pesaing berat ke depan?
Menurut saya, dalam pemilu legislatif, kalau bahasa akhiratnya, itu nafsi-nafsi (masing-masing) berjuang. Tapi, kalau dalam pemilihan presiden, masih tetap melakukan kombinasi antara nasionalis dan Islam. Sebab Indonesia ini terlalu luas, terlalu banyak ragamnya. Kalau nasionalis jalan sendiri, kelompok Islamnya juga bisa memainkan peran yang bisa membuat instabilitas di pemerintahan. Kalau dua-duanya terakomodasi, pemerintahan relatif akan stabil. Itu satu faktor yang harus didukung.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: