Oleh: drahani | Februari 27, 2008

Sidang Pilbub Tuban

jabar-2.jpgTjong Ping atau Teguh Prabowo Gunawan (Cawabup Tuban/ Ketua PDIP Tuban) dan Miyadi (Wakil Ketua PKB Tuban) yang merupakan tokoh di balik kerusuhan Pemilihan Bupati (Pilbup) Tuban (29/4/2006), Senin (25/2), disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Dalam sidang perdana itu, ketua majelis hakim Tjakra Alam SH menjelaskan sidang pidana untuk Go Tjong Ping dan Miyadi dilakukan di PN Surabaya dan bukan di PN Tuban, karena adanya “perintah” Mahkamah Agung (MA) melalui Surat Edaran (SE) MA.

Ketika membacakan dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari PN Tuban mendakwa kedua politisi itu dengan dakwaan penghasutan dan perusakan, meski sengketa Pilbup Tuban di Pengadilan Tinggi (PT) Jatim sudah selesai pada dua tahun silam.

“Kami memang menerapkan dakwaan alternatif yakni pasal 160 KUHP terkait penghasutan dengan ancaman hukuman 5 tahun dan pasal 170 KUHP terkait perusakan dengan ancaman hukuman 7-8 tahun,” kata JPU Soewarto Darmandi SH ketika dikonfirmasi usai sidang.

Ia meyakini kebenaran dari kedua pasal yang didakwakan itu, karena 119 terdakwa yang merupakan pelaku lapangan dalam kerusuhan itu telah divonis bersalah di PN Tuban dengan hukuman berkisar 3 bulan hingga 1,5 tahun.

“Kalau mereka bersalah, saya yakin kedua tokoh yang disidangkan sekarang juga bersalah, karena perusakan itu dilakukan bersama-sama, apakah perusakan di lapangan maupun penghasutannya. Keyakinan kami itu akan diuji dalam persidangan di sini,” katanya.

Dalam dakwaannya, kedua politisi itu didakwa mengetahui unjukrasa untuk menyikapi hasil penghitungan Pilbup Tuban pada 27 April 2006 dengan selisih suara yang tipis itu sangat berpotensi anarkhis, karena keduanya yang memimpin pertemuan untuk rencana aksi itu.

“Dalam pertemuan pada 28 April 2006 pukul 19.00 WIB itu, para kader PDIP dan PKB dari beberapa kecamatan sepakat untuk demonstrasi ke KPU Tuban dengan 13 isu, diantaranya money politics, keterlibatan camat dan kades, dan ketidaknetralan Panwas. Target aksi adalah pilbup diulang,” katanya.

Dalam rapat itu, terdakwa Miyadi membagikan dana operasional untuk demonstrasi kepada para koordinator aksi untuk sewa pengeras suara, sewa 24 unit kendaraan, dan sebagainya yang nilainya mencapai Rp12.750.000.

Selain itu, terdakwa Go Tjong Ping juga sempat memberikan arahan kepada para koordinator pengunjukrasa pada 28 April 2006 pukul 07.30 WIB, termasuk memberi uang Rp100.000 untuk fotokopi selebaran yang bersifat provokatif.

Selebaran provokatif itu antara lain berbunyi kita gulingkan penguasa yang mendolimi rakyat, kita melihat istana Mak Lampir yang dibuat dari air mata kita selama 5 tahun, serang, ambil batu, bakar-bakar, hancur-hancurkan.

Perusakan terjadi pada kantor KPU Tuban, pendopo kabupaten, gedung Korpri, gedung Dharma Wanita, gedung GOW, hotel Mustika, kantor Partai Golkar, rumah milik H Ali Hasan, SPBU Menanggal, gedung CV 99, dan rumah dinas Bupati Tuban Haeny Relawati, termasuk 11 mobil di rumah itu.

Go Tjong Ping adalah Ketua Tempat Ibadah Tri Dharma Kwan Sing Bio, Tuban, yang berpasangan dengan Noor Nahar Hussein, sebagai calon wakil bupati, sedangkan bupati lama Haeny Relawati mencalonkan lagi yang berpasangan dengan Lilik Soehardjono.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: