Oleh: drahani | Maret 10, 2008

Perkembangan Anti Aging di Indonesia

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana kini mempunyai Centre for Study of Anti-Aging Medicine (CSAAM) yang didirikan Pebruari 2006 lalu, dan merupakan lembaga pertama di Indonesia bahkan Asia. Selain mengandalkan sembilan (9) dokter dengan spesialisisasi berbeda yang juga pengajar setempat, CSAAM telah menandatangani perjanjian kerjasama (MoU) dengan American Academy of Anti-Aging Medicine (A4M), awal 2007 lalu terkait tenaga ahli dan teknologi.

Kerjasama tersebut membuka peluang bagi dunia kedokteran Indonesia untuk mengembangkan anti-aging medicine (AAM). Selain itu, diharapkan bisa meningkatkan minat dan keterlibatan dokter-dokter di Indonesia untuk terus mengikuti perkembangan medis secara global, kata Prof Dr dr Wimpie Pangkahila SpAnd FAACS, ketua CSAAM. Sementara bagi masyarakat umum, ditekankan pada edukasi perlunya menjaga kesehatan dan kebugaran, serta meningkatkan vitalitas maupun daya tahan tubuh. Dengan begitu, tambahnya, walau usia kronologis terus bertambah, fungsi biologis atau fisiologis tetap optimal.

Ilmu tentang anti aging (AA), menurut Wimpie, sebenarnya sudah sejak lama diberikan kepada mahasiswa kedokteran di Indonesia. Dengan pendirian CSAAM, para dokter bisa menimba ilmu AA lebih mendalam baik melalui program megister maupun kelas singkat. “Program edukasi tersebut akan segera kami wujudkan tahun ini juga dan berlaku bagi dokter maupun profesional lain di Indonesia dan luar negeri,” tegas Wimpie. CSAAM juga menekankan pada kegiatan penelitian serta proses edukasi tentang AA kepada masyarakat luas.

AAM, menurut Wimpie, memang menekankan pada edukasi mengingat banyaknya pihak yang memanfaatkan istilah AA untuk kepentingan sendiri. Dicontohkan, menjamurnya produk suplemen maupun kosmetik yang dipublikasikan untuk AA. Selain itu, banyak treatmen semisal pengeluaran racun tubuh (detoksifikasi) dengan mempergunakan bahan atau alat tertentu juga marak ditawarkan ke masyarakat. Padahal hal tersebut kurang bisa dipertanggungjawabkan secara klinis atau ilmiah, demikian Wimpie penuh keprihatinan.

A4M sendiri diakui sebagai kiblatnya AAM dunia, dimana pendirinya yaitu Dr Robert Goldman & Dr Ronald Klatz merupakan penemu bidang ilmu tersebut. Berdiri tahun 1981, A4M tumbuh menjadi organisasi kedokteran non-profit yang mendedikasikan diri bagi pengembangan teknologi tingkat tinggi dalam mendiagnosa, mencegah dan mengobati penyakit yang berhubungan dengan proses penuaan (aging disease).

Goldman yang ditemui di Nusa Dua, mengaku tidak mudah dalam mensosialisasikan ilmu tersebut. Awalnya, kata dia, hanya 12 dokter yang bisa diajak kerjasama. Tapi kini ia menuai hasil, dimana sekitar 30.000 dokter dan ilmuwan (umum dan spesialis) dari 90 negara, bergabung dalam A4M, suatu komunitas terbesar dunia dalam bidang AAM. Ia juga bangga, para dokter di Indonesia menyambut baik program AAM dengan mendirikan CSAAM.

AAM merupakan sub-spesialis ilmu kedokteran yang menilai kesehatan dan kebugaran secara menyeluruh. Terapi atau pengobatan AAM tidak sekedar menghilangkan gejala yang timbul dari kondisi sakit melainkan juga menargetkan sumber penyebabnya. AAM adalah evidence-based. Segala tindakan pengobatan dan rekomendasi harus berdasarkan hasil riset dan uji klinis yang telah terbukti, didukung oleh literatur scientific yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sekarang, AAM berkembang pesat di berbagai negara maju, seiring bertambahnya populasi dunia yang memasuki usia senja. Ilmu tersebut memanfaatkan kemajuan Biomedical Regenerative Technology, yang memungkinkan intervensi untuk memperlambat proses penuaan atau penurunan fungsi. Perkembangan teknologi medis yang ada mampu mendeteksi secara dini dan akurat. Karenanya bisa dibuatkan program khusus individual yang bertujuan memperlambat bahkan menghambat proses degeneratif, sehingga kualitas hidup seseorang meningkat.

AAM bukan hanya terkait dengan aesthetic atau cosmetic medicine, tapi mencakup ilmu kedokteran lain seperti endocrinology, sports medicine, nutrition medicine, dan spa medicine. Di samping itu, menyangkut cabang ilmu lain diantaranya biochemistry, physiology, anatomy, molecular biology, molecular genetics, neurology, dan sebagainya.

Pada September 2005 lalu, Konfrensi AAM tingkat Asia Pasifik pertama kali di adakan di Indonesia, tepatnya Nusa Dua, Bali. Acara dihadiri oleh 500-an peserta dari 18 negara dengan 30 pembicara. Sejak itu, berbagai kegiatan baik seminar maupun workshop AAM digelar di Indonesia, termasuk Kongres Nasional pertama PERKAPI (Perkumpulan Kedokteran Anti-Penuaan Indonesia) di Jakarta, November 2006. The Asia Pacific Conference on Anti-Aging Medicine pun diadakan untuk kedua kalinya pada September 2006 lalu, juga di Nusa Dua. Acara serupa, kata Stephen Tjandra sebagai salah seorang fasilitator dan pemilik Victus Life-Spa&Longevity Institute, direncanakan rutin di Bali.

Berbagai agenda dalam The Asia Pacific Conference on Anti-Aging Medicine mendatang antara lain presentasi oral & poster oleh peserta conference maupun akademis, ujian tertulis bagi kandidat dokter yang ingin mendapatkan sertifikasi ABAAM (American Board of Anti-Aging Medicine for Physician), Ujian tertulis bagi kandidat praktisi kesehatan non-dokter yang ingin mendapatkan sertifikasi ABAAHP (American Board of Anti-Aging Medicine for Health Practitioners), Ujian tertulis untuk mendapatkan sertifikasi Sports Medicine & Fitness Professionals dari ACASP (American College of Anti-Aging Sport Medicine Professionals), serta International Wellness & Anti-Aging Medicine Trade Expo 2007.

Konferensi internasional AAM, tambah Tjandra, rutin diadakan di tiga lokasi utama, yaitu di Amerika (Las Vegas) setiap Desember, Eropa di Monte Carlo setiap Maret dan Asia Pacific diadakan pada September di Singapore dengan rata-rata peserta 800 orang. Sejak 2005 lalu pertemuan tingkat Aspac ini diadakan di Bali.

Keberadaan CSAAM di Bali semakin lengkap dengan berdirinya Victus yang memberikan layanan konsultasi hingga pembuatan program AA secara individual.

Berdiri di lahan 4874m2, Victus berlokasi di Nusa Dua yang merupakan pilihan akomodasi utama di Bali. Menurut Tjandra yang mengelolanya bersama putrinya, Meilyana Tjandra, Victus merupakan pionir spa dan longevity institute di Asia yang menawarkan produk dan pelayanan AA secara komprehensif. “Pokoknya comprehensive products and services, in spa & beauty, yoga & fitness, health food dan cafe, nutraceuticals dan cosmeceuticals, anti-aging lifestyle coaching, biological compounding pharmacy, age diagnostics laboratory and life enhancement program through integrative Anti-Aging, Regenerative, hingga Aesthetic Medicine,” urai Tjandra.

Berbagai program tersebut, lanjut Tjandra, menyesuaikan dengan komponen utama integrative wellness dan AAM. Tjandra menyayangkan proses penuaan yang selama ini dipahami sebagai hal normal dan masyarakat cenderung membiarkannya. “Orang kan cenderung berpendapat kalau tua merupakan hal lumrah, kulit keriput dan fungsi tubuh menurun, belum lagi muncul penyakit ini dan itu. Kebanyakan orang pasrah saja menunggu kematian padahal angka harapan hidup sebenarnya bisa diperpanjang,” urainya.

Untuk mencapai wellness, kata dia, terlebih dulu perlu program pengurangan dan menghindari bertambahnya racun dalam tubuh. Ini bisa dilakukan diantaranya dengan hidup di lingkungan bebas polusi terutama udaranya, serta meninggalkan pemakaian produk berbahan kimia. Perlu pula kedisiplinan pada gaya hidup sehat, antara lain dalam pemilihan makanan sehat (yang mengandung vitamin dan mineral tinggi, serta jauh dari pestisida), olahraga dengan teknik yang benar dan proporsional, serta rutin relaksasi misalnya istirahat yang cukup serta pandai mengelola stres. Langkah berikutnya adalah pemeriksaan genetik, untuk mengetahui kondisi bawaan atau keturunan. Ini untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan tubuh, serta cara kelola dengan baik.

Dalam hal ini, Victus akan menangani klien mulai dari pemeriksaan, konsultasi dan edukasi, hingga pemberian rekomendasi program. Menurut Tjandra, pemeriksaan awal sama dengan pemeriksaan medis konvesional. Namun di Victus akan dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap nilai patologi, yang bisa berpengaruh pada kondisi tubuh normal. Ini mendasari tindak lanjutan, terutama untuk memutuskan perlu tidaknya dilakukan pengobatan. Ini dinamai clinical data research, papar Tjandra, yang bertujuan mendapatkan nilai fungsional yang optimal. Sebagai standar kondisi optimal adalah individu saat usia 25 – 30 tahun dalam keadaan sehat.

Data atau riwayat kesehatan klien tersebut kemudian dibahas oleh tim ahli, untuk dibuatkan rekomendasi program wellnes yang sesuai dengan kondisinya. Ada tiga penggolongan program utama berdasarkan usia. Bagi klien berusia kurang dari 40 tahun (< 40 tahun) sifatnya adalah menghindari penyebab penuaan atau menekankan pada perawatan, 40 – 60 tahun penekanan pada combating, dan lebih dari 60 tahun (>60 tahun) perlu adanya regeneratif medicine. Usia 40 tahun merupakan batas memasuki normal aging atau mulai terjadinya fisiologi decline.

Biaya yang dikenakan pun tergantung pada tingkat penanganan. Program perawatan dibutuhkan dana berkisar $1000 – $2000, combating $3000 – 6000, dan regeneratif medicine bisa sampai $20.000, masing-masing dalam rentang waktu satu tahun. Mengingat besarnya biaya, sebenarnya masyarakat bisa juga melakukan penanganan AA secara individual, kata Tjandra, yaitu dengan disiplin berpegang pada panduan hidup wellness. Pola makan harus diubah, bukan untuk menghilangkan lapar semata tapi mendapatkan tubuh sehat dan kontrol berat badan. Cara memasak pun perlu diperhatikan, jangan sampai over cooking. Stamina tubuh juga harus dijaga dengan rutin berolahraga dan bisa mengkonsumsi suplemen yang sesuai kebutuhan tubuh.

Dalam operasionalnya, Victus bermitra dengan CSAAM, A4M, dan sejumlah professional terkait lainnya semisal perawat. Dalam programnya, penanganan pada klien tidak selalu membutuhkan kehadiran dokter secara fisik karena penekanannya pada edukasi, rekomendasi dan pengawasan. Keberhasilan program juga tergantung pada kedisiplinan individual dan lingkungan tempat hidup.

Sebagai tahapan awal, imbuh Tjandra, Victus menjadikan wisatawan sebagai target pasar utama. Dipilihnya Bali untuk operasional Victus yang pertama, ini, didasarkan pada banyaknya kunjungan wisatawan asing termasuk para ahli AAM. “Potensi alam dan suasana Bali juga sangat mendukung untuk program AAM,” tambah Tjandra yang sudah lama dekat dengan para penggiat AAM dunia. Ke depan, Tjandra akan mengembangkan sayap Victus ke Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: